Tampilkan postingan dengan label topikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label topikal. Tampilkan semua postingan
Rabu, 12 Juni 2013 0 komentar

Pemberian obat secara sublingual


1.1    Pengertian
Pemberian obat secara sublingual merupakan pemberian obat yang cara pemberiannya ditaruh di bawah lidah. Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan bisa lebih cepat karena pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari sakit. Kelebihan dari cara pemberian obat dengan sublingual adalah efek obat akan terasa lebih cepat dan kerusakan obat pada saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari.
1.2    Mekanisme fisiologis

Pemberian obat secara topikal pada mata memiliki tujuan yang lokal. Obat yang cara pemberiannya ditaruk di bawah lidah tujuannya agar efek yang ditimbulkan lebih cepat karena pembuluh darah dibawah lidah merupakan pusat dari sakit, efek obat akan terasa lebih capat dan menghindari kerusakan saluran cerna pada metabolisme di dinding usus dan hati. 
0 komentar

Pemberian obat pada mata


1.1    Pengertian
Pemberian obat pada mata dilakukan dengan cara meneteskan obat mata atau mengoleskan salep mata. Persiapan pemeriksaan struktur internal mata dilakukan dengan cara mendilatasi pupil, untuk mengukur refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa, kemudian dapat juga digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
Obat mata biasanya berbentuk cairan dan ointment/ obat salep mata yang dikemas dalam tabung kecil. Karena sifat selaput lendir dan jaringan mata yang lunak dan responsif terhadap obat, maka obat mata biasanya diramu dengan kekuatan yang rendah.
1.2    Mekanisme fisiologis
Pemberian obat pada mata memiliki tujuan yang lokal. Pada saat obat di teteskan ke mata, obat akan di absorbsi oleh  pembuluh darah yang ada di mata, dari pembuluh darah itu obat akan menuju ke organ sasaran untuk menghasilkan efek seperti yang diinginkan.

Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa, kemudian juga dapat digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
0 komentar

Pemberian obat topikal pada kulit


1.1    Pengertian
Pemberian obat topikal pada kulit merupakan cara pemberian obat pada kulit dengan mengoleskan obat yang akan diberikan. Pemberian obat topikal pada kulit memiliki tujuan yang lokal, seperti pada superficial epidermis. Pemberian obat topikal pada kulit mempertahankan hidrasi atau cairan tubuh untuk mencapai homeostasis, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, menghilangkan gejala atau mengatasi infeksi. Obat ini diberikan untuk mempercepat proses penyembuhan, bila pemberian per-oral tidak dapat mencapai superficial epidermis yang sedikit pembuluh darah kapiler. Efek sistemik tidak diharapkan pada pemberian obat topikal pada kulit ini. Apabila terjadi kerusakan kulit setelah penggunaan obat topikal pada kulit, maka kemungkinan besar efek sistemik akan terjadi.
Pemberian obat topikal pada kulit berupa krim, salep, lotion, bubuk atau powder, spray aerosol. Keuntungan dari pemberian obat secara topikal bertujuan untuk efek lokal, mencegah first-pass effect serta meminimalkan efek samping sistemik. Untuk efek sistemik, menyerupai cara pemberian obat melalui intravena. Dalam pemberian obat secara topikal juga memiliki kerugian berupa secara kosmetik kurang menarik, absorbsinya tidak menentu.
1.2    Mekanisme fisiologis
Pemberian obat secara topikal pada kulit memiliki tujuan yang lokal dalam proses penyerapannya obat topikal mengalami:
1.      Lag phase, hanya di atas kulit, tidak masuk ke dalam darah
2.      Rising, dari stratum korneum diserap sampai ke kapiler dermis darah
3.      Falling, obat habis di stratum korneum. Jika terus diserap kedalam, khasiatnya akan semakin berkurang. Kurangnya konsentrasi obat yang sampai ke tempat sasaran bisa karena proses eksfoliasi (bagian atas kulit mengelupas), terhapus atau juga karena tercuci.
Faktor-faktor yang berperan dalam penyerapan obat pada kulit secara topikal, diantaranya adalah:
1.      Keadaan stratum korneum yang berperan sebagai sawar kulit untuk obat.
2.     Oklusi, yaitu penutup kedap udara pada salep berminyak yang dapat meningkatkan penetrasi dan mencegah terhapusnya obat akibat gesekan, usapan serta pencucian. Namun dapat mempercepat efek samping, infeksi, folikulitis dan miliaria jika penggunaannya bersama obat atau kombinasinya tidak tepat.
3.    Frekuensi aplikasi, seperti pada obat kortikosteroid yang kebanyakan cukup diaplikasikan satu kali sehari, serta beberapa emolien (krim protektif) yang akan meningkat penyerapannya setelah pemakaian berulang, bukan karena lama kontaknya.
4.      Kuantitas obat yang diaplikasi

Jumlah pemakaian obat topikal pada kulit ini harus cukup, jika pemakaiannya berlebihan justru malah tidak berguna bahkan dapat menyebabkan iritasi kulit. Jumlah yang akan dipakai, sesuai dengan luas permukaan kulit yang terkena infeksi.
0 komentar

Pemberian obat secara sub kutan


1.1. Pengertian
Pemberian obat sub kutan adalah pemberian obat melalui suntikan ke area bawah kulit yaitu pada jaringan konektif atau lemak di bawah dermis. Injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan melarut baik dalam air atau minyak. Tujuan injeksi sub kutan, agar obat dapat menyebar dan diserap secara perlahan-lahan. Efeknya tidak secepat injeksi intramuscular atau intravena. Mudah dilakukan sendiri, misalnya insulin pada penyakit diabetes militus.
Tempat yang paling tepat untuk melakukan injeksi sub kutan meliputi area vascular disekitar bagian luar lengan atas, abdomen dari batas bawah kosta sampai krista iliaka, dan bagian anterior paha. Tempat yang paling sering direkomendasikan untuk injeksi heparin ialah abdomen. Tempat yang lain meliputi daerah scapula di punggung atas dan daerah ventral atas atau gluteus dorsal serta daerah scapula. Tempat yang dipilih ini harus bebas dari infeksi, lesi kulit, jaringan parut, tonjolan tulang, dan otot atau saraf besar dibawahnya.
Obat yang diberikan melalui rute sub kutan hanya obat dosis kecil yang larut dalam air (0,5 sampai 1 ml). Jaringan sub kutan sensitif terhadap larutan yang mengiritasi dan obat dalam volume besar. Kumpulan obat dalam jaringan dapat menimbulkan abses steril yang tampak seperti gumpalan yang mengeras dan nyeri di bawah kulit.
Jenis obat yang lazim diberikan secara sub kutan adalah vaksin, obat-obatan preoperasi, narkotik, insulin, dan heparin.

1.2 Mekanisme fisiologis
Injeksi sub kutan atau pemberian obat melalui bawah kulit pada jaringan konektif atau lemak di bawah dermis, hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorpsinya terjadi secara lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Hal ini dapat terjadi karena obat pada injeksi sub kutan masih banyak melintasi banyak membran sel sebelum tiba dalam peredaran darah. Selanjutya akan didistribusi ke dalam cairan tubuh dan jaringan tubuh, kemudian terjadi proses metabolisme pada hati sehingga obat diinaktifkan oleh enzim-enzim hati yang berupa zat yang larut dalam air untuk di ekskresikan.

 
;